BACK TO REFLECTIONS

Tuesday · July 21, 2026

Mutiara

On paper

Pagi ini saya bangun lebih awal dan sempat jalan kaki mengelilingi kompleks. Udaranya masih dingin, jalanan masih sepi, dan sambil melangkah saya mendengarkan satu kajian di telinga. Kebiasaan kecil ini, mendengarkan sesuatu sambil berolahraga, biasanya jadi cara saya mencari bekal untuk menjalani satu hari penuh.

Hari ini saya mulai menulis jurnal ini, dan niatnya sederhana saja. Saya ingin melatih konsistensi, ingin lebih sadar dan lebih memperhatikan apa yang saya lakukan setiap hari. Kalau nanti tulisan atau rekaman ini terasa berantakan, maju mundur, atau kurang tertata, mohon dimaklumi, karena semuanya saya buat sekali jadi, tanpa diedit. Yang penting bagi saya adalah terus berjalan, walau hanya satu persen setiap hari. Ada kalimat dari Atomic Habits yang saya suka: kalau kita bertumbuh satu persen saja setiap hari, dalam setahun kita sudah bertumbuh jauh lebih banyak dari titik awal.

Tadi pagi, di sela langkah, saya mendengar ngaji filsafat tentang Al-Kindi, dan ada dua hal yang menempel di kepala saya sampai sekarang. Yang pertama, katanya, adalah kewajiban kita untuk tidak mencela orang yang telah memberi kita manfaat. Menurut saya ini kalimat yang kuat. Sebab manfaat itu bisa datang dari siapa saja, bahkan dari orang yang menyebalkan atau yang tidak sejalan dengan kita. Selama ia pernah memberi kita sesuatu yang baik, rasanya tidak pantas kita mencelanya.

Yang kedua, dan ini yang paling mengena, kira-kira begini. Tugas kita adalah mengumpulkan hikmah yang tercecer di mana-mana. Mungkin sehari kita cuma dapat sedikit, tapi kalau butir-butir kecil itu dikumpulkan terus, lama-lama ia akan jadi bukit. Belajarlah dari apa pun, dari siapa pun, lalu perhatikan, pasti ada mutiara kecil di sana. Kumpulkan mutiara itu, dan bangun bukitmu sendiri. Saya suka sekali gambaran ini. Mutiara memang kecil, tapi justru karena kecil dan langka itulah ia berharga. Maka hari ini saya berjanji untuk lebih sering menunduk dan memungutnya.

Malamnya, sepulang kerja dan setelah terjebak macet yang panjang, saya menimbang lagi apa yang saya dapat hari ini. Peganglah tujuan besar erat-erat, tapi tetap fleksibel di langkah-langkah kecilnya. Kurangi bicara yang tidak penting, karena semakin banyak bicara, kita cenderung hanya mengejar rasa senang saat didengar orang. Dan yang terakhir, tuliskan tujuanmu, jadikan ia semacam pagar, supaya setiap yang kita kerjakan selalu bisa ditanya: apakah ini mendekatkan saya pada tujuan, atau tidak. Sebelum tidur saya ingatkan diri sendiri untuk tetap rendah hati dan menjaga prasangka, karena tidak ada manusia yang paling baik, yang ada hanya manusia yang aibnya ditutup oleh Allah.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 0

No comments yet. Be the first to leave one 🌱

Be kind. Comments appear right away.