BACK TO REFLECTIONS

Thursday · July 23, 2026

Meletik

On paper

Hari ini saya pulang telat, sampai rumah sudah malam. Tadi ada meeting bertemu langsung dengan klien, sesuatu yang jarang saya lakukan. Biasanya saya lebih banyak bekerja di balik layar, jadi bisa duduk berhadapan dengan klien seperti tadi terasa berbeda. Ada dua hal yang ingin saya latih dari situ: berbicara di depan banyak orang dengan tertata, dan kepercayaan diri. Setelah meeting saya masih menyelesaikan beberapa tiket, lalu pulang menembus macet Jakarta yang di jam pulang kantor memang parah sekali. Sebelum sampai rumah saya mampir membeli makan, seperti biasa, lalu makan, bersih-bersih, dan hampir saja lupa merekam catatan ini kalau tidak teringat sebelum tidur.

Insight yang paling berkesan hari ini datang dari kajian tentang Ibrahim bin Adham, seorang raja yang meninggalkan kerajaannya untuk menjadi pengembara, mendekatkan diri pada Tuhan. Ada satu titik balik dalam hidupnya yang membuat dia memilih jalan itu sepenuhnya. Pak Faiz, yang membawakan materinya, menyebut momen seperti itu dengan istilah meletik, yaitu saat seseorang berada di titik paling rendah, lalu memantul naik dan bersinar. Katanya, setiap orang pasti punya titik balik semacam itu.

Tapi yang membuat saya merenung, titik balik itu ternyata baru permulaan. Saya membayangkannya seperti mesin. Titik balik adalah engkol yang menyalakannya, momentum pertama. Tapi supaya mesin terus berputar dan menghasilkan tenaga, dibutuhkan bensin yang disuplai terus-menerus. Bensin itulah konsistensi. Percikan sebesar apa pun akan padam kalau tidak dijaga. Justru karena itu saya membuat catatan harian ini, supaya sesibuk atau selelah apa pun, ada satu hal kecil yang tetap saya jaga setiap hari.

Ada satu lagi yang saya bawa pulang malam ini. Pak Faiz bilang, jangan hidup dengan autopilot, jangan sampai kita menjalani hari tanpa sadar lalu tiba-tiba sudah sampai di rumah tanpa tahu apa yang terjadi seharian. Saya tidak mau hidup seperti itu. Saya ingin lebih sadar, lebih memperhatikan sekeliling, karena mungkin di sela-sela hari yang biasa itu ada satu dua mutiara yang bisa saya pungut. Sebelum tidur, seperti biasa, saya ingatkan diri untuk tetap rendah hati dan menjaga prasangka.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 0

No comments yet. Be the first to leave one 🌱

Be kind. Comments appear right away.