Tuesday · October 27, 2026
Kata-Kata yang Baik
Rekaman ini saya buat lewat tengah malam, tetapi isinya adalah refleksi untuk 27 Oktober. Hari ini saya tidak mendapat tiket pekerjaan yang perlu segera diselesaikan. Saya menggunakan waktu yang lebih longgar itu untuk mulai memetakan dokumentasi bagi klien-klien yang pernah saya tangani. Saya melihat tiap proyek punya tingkat kompleksitas dan sumber data yang berbeda, jadi waktu yang dibutuhkan pun tidak sama. Saya mulai menyusun timeline agar pekerjaan ini lebih teratur dan targetnya bisa saya pantau selama kurang lebih dua minggu ke depan.
Bagi saya, dokumentasi ini menjadi bekal untuk memahami kembali pekerjaan sendiri. Saya ingin bisa mengingat bagaimana suatu konsep diterapkan dalam proyek yang pernah saya tangani, lalu menjelaskannya dengan lebih yakin jika ada yang bertanya. Tugas utama tetap perlu saya selesaikan, tetapi saat ada waktu senggang saya ingin menggunakannya untuk belajar lebih dalam dan menyiapkan catatan yang kelak berguna.
Di kantor juga ada evaluasi tim mingguan. Kami membahas evaluasi pekerjaan, hal-hal yang sudah selesai atau sedang berjalan, rencana yang akan datang, serta umpan balik tentang alur kerja dan komunikasi. Hari ini saya mengusulkan tambahan sesi berbagi di bagian akhir. Isinya bisa berupa hal menarik yang dipelajari selama seminggu, tidak harus berkaitan dengan pekerjaan. Bisa tentang buku, gagasan, atau topik yang ingin dibagikan kepada teman-teman. Saya suka gagasan itu karena belajar tidak hanya datang dari tugas, tetapi juga dari hal-hal yang menarik perhatian masing-masing orang.
Setelah rapat, saya melanjutkan dokumentasi. Menjelang pulang, saya melihat beberapa rekan tampak cukup terbebani oleh pekerjaan. Keadaan saya sedang lebih lengang, jadi saya ingin tetap terbuka jika mereka membutuhkan bantuan atau ingin mendiskusikan sesuatu. Setelah itu saya makan bersama teman-teman kantor, lalu pulang dan merapikan kamar. Hari terasa penuh dengan hal-hal sederhana, tetapi masih ada ruang untuk memperhatikan orang lain dan diri sendiri.
Satu hal yang terus saya pikirkan adalah cara berbicara. Akhir-akhir ini saya merasa kadang berbicara terlalu berulang dan kurang tertata. Saya ingin belajar dari orang-orang yang mampu menyampaikan gagasan dengan runtut, termasuk dalam percakapan sehari-hari. Saya bisa mendengarkan dengan lebih saksama, memperhatikan susunan kalimat mereka, lalu berlatih menyampaikan pikiran saya sendiri dengan lebih jelas. Saya juga ingin membiasakan diri berzikir. Bagi saya, menjaga lisan dimulai dari apa yang sering kita dengar, pikirkan, dan ucapkan.
Saya teringat pelajaran tentang model bahasa yang menyusun kata berikutnya dari kata-kata sebelumnya. Saya memakai gambaran itu sebagai pengingat pribadi: ucapan yang baik dapat membantu saya melanjutkan dengan ucapan yang baik pula. Pikiran, prasangka, dan tindakan juga perlu dijaga. Untuk menyampaikan gagasan, saya masih ingin melatih beberapa pola yang pernah dipelajari, seperti PREP yang terdiri dari pokok pikiran, alasan, contoh, lalu penegasan kembali; fakta, masalah, solusi; dan What, Why, How. Kalau terus dilatih, semoga pola itu menjadi lebih alami dan membantu saya berbicara dengan singkat, terstruktur, serta tidak berputar-putar.
Papan tulis besar yang saya beli untuk menuangkan tujuan dan merapikan ide masih kosong. Saya belum menentukan apa yang akan ditulis di sana, dan itu tidak harus saya paksakan malam ini. Saya ingin mulai dengan lebih sadar, menata pikiran dan perkataan sedikit demi sedikit, lalu mengisi ruang itu ketika sudah tahu apa yang perlu saya susun. Semoga saya tetap rendah hati, menjaga prasangka baik, beristirahat cukup, dan tidak lupa menghubungi orang tua.
— rama
Enjoyed this reflection?
Follow me on Instagram for more updates.
No comments yet. Be the first to leave one 🌱