BACK TO REFLECTIONS

Friday · July 31, 2026

Tujuh Puluh Renungan

On paper

Malam ini saya baru sadar, kemarin saya lupa merekam catatan, pagi maupun malam. Ini jadi pengingat lagi bahwa menjaga konsistensi memang tidak mudah, dan lawannya bukanlah saat kita ingat, melainkan saat kita lupa. Tantangannya adalah bagaimana caranya supaya selalu ingat menjalankan yang sudah kita rencanakan.

Hari ini saya mendapat satu pemahaman baru tentang keutamaan salat subuh dan tentang merencanakan hari. Ternyata Nabi selalu membuat rencana untuk hari esok pada malam harinya, sebelum tidur. Karena itu ada anjuran istighfar tujuh puluh kali sebelum tidur, yang ternyata bukan sekadar diucapkan cepat-cepat, melainkan tujuh puluh perenungan atas kelalaian kita pada hari itu, satu per satu. Jadi setiap istighfar dibawa dengan merenungi apa yang kurang hari ini.

Kebetulan sekarang hari Jumat, dan besok tanggal satu. Dalam Islam, awal pekan itu dimulai dari hari Jumat, jadi ini momentum yang pas sekali untuk memperbaiki diri, membuat rencana lebih awal. Saya ingin memulainya dari yang terbesar dulu, dari apa yang ingin saya perjuangkan sepanjang hidup, baru mengerucut ke rencana minggu ini dan hari ini.

Akhir-akhir ini hati saya memang sedang kurang tenang, dan saya sadar obatnya bukan yang biasa. Dari kajian saya belajar, ada beda antara penyakit fisik dan penyakit hati. Obat penyakit fisik disebut dawa, sedangkan obat penyakit hati disebut syifa. Dan Al-Quran disebut syifa justru karena ia menyembuhkan apa yang ada di dalam dada. Jadi kalau tertimpa kesedihan, saya ingat bahwa obatnya berbeda, bukan sekadar dipendam, tapi ditenangkan dengan mendekat pada Al-Quran. Evaluasi hari ini, pagi saya terlalu terburu-buru karena rencananya belum cukup matang, jadi ke depannya saya ingin merencanakan lebih rinci dan lebih realistis, walau tetap optimis.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 0

No comments yet. Be the first to leave one 🌱

Be kind. Comments appear right away.