BACK TO REFLECTIONS

Tuesday · September 29, 2026

Menjaga Mutu Kata

On paper

Hari ini saya memulai pagi dengan mendengarkan beberapa renungan, lalu berangkat ke kantor. Saya mengerjakan beberapa migrasi, tugas, dan tiket. Menjelang sore saya pulang, mampir ke masjid dekat kantor untuk salat Magrib, lalu tiba di rumah sekitar pukul delapan malam.

Seperti hari-hari sebelumnya, saya mencoba mengevaluasi apa yang masih bisa diperbaiki. Refleksi saya kembali pada cara berbicara: bagaimana menyampaikan sesuatu dengan baik, lugas, dan mudah dipahami. Saya ingin lebih sadar dan terstruktur. Latihannya sederhana: membayangkan apa yang ingin disampaikan, menyusun urutannya di kepala, lalu mengatakannya pelan-pelan. Setelah itu saya menilai lagi bagian mana yang bisa diperbaiki. Saya ingin terus melatih kemampuan berbicara di depan umum dan retorika.

Hari ini saya juga lebih banyak berbicara daripada biasanya karena duduk di tempat yang berbeda dan lebih bergabung dengan teman-teman kantor. Obrolannya biasa saja, tetapi saya merasa terlalu banyak bicara bisa memengaruhi mutu kata-kata dan informasi yang saya sampaikan. Mungkin saya perlu lebih menjaga diri, berbicara seperlunya, lalu memberi ruang untuk lebih banyak merenung dan mendengarkan.

Sejak semalam suasana hati saya terasa kurang baik dan lebih melankolis dari biasanya. Saya belum tahu persis penyebabnya. Semoga hari-hari ke depan terasa lebih baik. Untuk malam ini, saya ingin tetap rendah hati dan menjaga prasangka baik. Ingat istirahat yang cukup, bangun untuk salat Subuh, dan menelepon orang tua.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 2

aku justru punya pandangan yang bisa diblg beda sama sudut pandangmu kali ya, atau mungkin emg beda perspektif aja. dari sisiku sbg org yg mungkin bisa diblg ngeliat sisi mu dari cover nya aja, justru kamu keliatan lebih cheerful dan lebih enjoy pas kmrin ngobrol dan gabung sm yg lain. ada sisi mu yang menurutku jadi lebih hidup pas kamu ga terlalu sibuk nahan diri. jadi apa yang kamu anggep sebagai “terlalu banyak bicara”, belum tentu dilihat orang lain sebagai sesuatu yang perlu dikurangi. karna jujur kmrin bikin aku ngerasa bersyukur, karna lingkungan kantor nya lebih hidup, bisa banyak ketawa dan sharing sm datmol, karna ya kita gapernah tau waktu kita brng org lain sampe kpn, tp bisa ngerasain momen kaya kmrin bnran bikin bersyukur aja siii. mungkin karena kamu cukup sering ngamatin diri sendiri, cukup sering ngomong sm isi pikiranmu sendiri, sampe sesuatu yang menurutku itu sbnrnya natural buat kamu pun akhirnya kamu evaluasi lagi

misalnya: kata" gw bermutu gaa, seharusnya gw lebih banyak diem. pdhl, dari luar, kadang yang diliat itu bukan banyak atau sedikit kata" nya, tapi gmn seseorang ngebuat suasana jadi lebih ringan dan cheerful. jd kalo suatu hari kamu ngerasa kayanya terlalu banyak ngomong, itu tuh ga selalu harus lebih banyak diem. bisa jadi kamu cuma lg di versi dirimu yg lebih terbuka sm sekitar, dan menurut pandanganku itu juga bagian dari dirimu yg masih layak diterima, bukan hal yang harus terus" an dikoreksi wueheheheh, mungkin bukan ngejaga seberapa banyak bicaranya kali ya, tapi apakah setelahnya kamu masih jadi dirimu atau engga, MUNGKINN...

Be kind. Comments appear right away.