Thursday · October 01, 2026
Belajar Mengikuti Arus
Malam ini saya menyempatkan diri merapikan kamar dan meja yang sempat berantakan setelah hari yang padat. Pagi tadi saya berlari di sekitar kompleks sambil mendengarkan renungan tentang Thomas More. Saya menangkap satu gagasan dari kisah dua guru: tujuan yang baik tidak selalu tercapai dengan memaksa murid belajar dan memahami semuanya sekaligus. Kadang kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu memberi ruang bagi proses untuk berjalan.
Gagasan itu mengingatkan saya pada Wu Wei: mengikuti arus kehidupan tanpa tenggelam di dalamnya. Bagi saya, ini bukan berarti berhenti berusaha. Kita tetap melakukan bagian kita dengan ikhlas, tetapi tidak harus memaksa setiap hasil agar persis sesuai keinginan atau menjadi sempurna. Hasil akhirnya bisa kita terima sambil terus menjalani proses.
Di kantor, saya menuntaskan semua tiket pekerjaan. Itu melegakan, tetapi saya juga pulang kemalaman dan merasa bekerja terlalu banyak. Akhir-akhir ini hati saya terasa sedih dan seperti ada yang kurang, meski saya belum tahu apa. Mungkin saya perlu pelan-pelan membaca kembali perasaan dan perilaku saya, sambil tetap menjaga rutinitas dan tanggung jawab. Tadi saya juga hampir melewatkan satu tugas; pengingat untuk memperbaiki pengelolaan waktu dan prioritas.
Untuk malam ini, saya ingin mencoba memahami apa yang sedang saya rasakan tanpa tergesa-gesa mencari jawabannya. Tetap rendah hati dan jaga prasangka baik. Ingat istirahat yang cukup, bangun untuk salat Subuh, dan menelepon orang tua.
— rama
Enjoyed this reflection?
Follow me on Instagram for more updates.
No comments yet. Be the first to leave one 🌱
Mungkin emang ga semua hal harus langsung dapat jawabannya. Bisa besok, lusa, atau justru di waktu yang ga pernah kita sadari. Nikmatin aja alurnya, karena yang bikin skenario hidup kita adalah Dia yang menciptakan kita. Jadi, gimana pun alur ceritanya, percaya aja bahwa skenario terbaik selalu jadi pilihan terbaik Allah untuk hambanya. Mungkin emang ada hal-hal yang baru kelihatan setelah kita berhenti sebentar dan kasih ruang buat diri sendiri. Dan menurutku, menerima hasil yang ada bukan suatu bentuk kepasrahan. Justru dari situ kita belajar tahu kapan harus berhenti, kapan harus rehat, dan kapan harus berusaha lagi. Karena yang terpenting bukan cuma hasilnya, tapi proses yang kita lewati. Mungkin itu juga salah satu bentuk kedewasaan: belajar ikhlas menjadi manusia.
Semoga yang terasa “kurang” pelan-pelan bisa menemukan bentuknya. Bentuk yang nantinya bisa disyukuri, dinikmati, bahkan dibanggakan. Ga harus hari ini, ga harus sekarang juga. Kadang emang gitu, hidup harus dijalanin dulu aja, dipahaminya belakangan, tapi bagian dari beryukurnya harus ttp jadi poin utama kehidupan, anjay