BACK TO REFLECTIONS

Friday · October 02, 2026

Ketenangan yang Menular

On paper

Hari ini saya berangkat ke kampus di tengah hujan. Jas hujan saya ternyata kurang menahan air, jadi saya beberapa kali harus berhenti dan perjalanan memakan waktu sekitar dua setengah sampai tiga jam. Saya datang terlambat dan melewatkan satu sesi kelas; dosen memakluminya. Di kelas, saya belajar tentang neural network, arsitektur Transformer, dan attention layer.

Saat perjalanan pulang, saya mencoba playlist lagu FTV lama yang direkomendasikan di Spotify. Pilihannya cukup asing buat saya, tetapi ternyata bisa sedikit memperbaiki suasana hati. Sebelumnya, saat menepi dari hujan, saya mendengarkan kajian tentang manajemen keuangan dan financial freedom. Namun, pikiran yang paling membekas justru tentang keadaan diri sendiri: belakangan ini saya merasa gelisah dan seperti ada yang kosong.

Saya mulai melihat bahwa kegelisahan dan terlalu banyak berpikir bisa membuat saya sulit menyampaikan sesuatu dengan runtut. Bukan hanya terlalu bersemangat atau marah; rasa waswas juga bisa mengganggu kemampuan berbicara. Sebaliknya, ketenangan mungkin tumbuh dari rasa senang yang sederhana dan tidak berlebihan. Bahkan suasana melankolis pun tidak selalu sama dengan kesedihan; kadang ada ruang untuk merenung dengan tenang. Saat saya lebih tenang, semoga kata-kata yang saya sampaikan juga bisa menenangkan orang lain.

Saya ingin membiasakan diri tersenyum tipis. Senyum kecil mungkin menular dan membuat suasana orang di sekitar terasa lebih ringan. Untuk malam ini, tetap rendah hati, jaga prasangka baik, istirahat yang cukup, bangun untuk salat Subuh, dan jangan lupa menelepon orang tua.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 2

Kadang emang bukan keadaan di luar yang terlalu berat, tapi isi kepala kita sendiri yang terlalu ramai. Sampai hal sederhana seperti menyampaikan sesuatu pun jadi terasa lebih sulit karena kita masih sibuk menata apa yang sebenarnya sedang kita rasakan. Dan mungkin ketenangan emang ga selalu datang dari sesuatu yang besar. Bisa dari lagu yang kebetulan kita dengar diperjalanan, senyum kecil yang terlintas, hujan yang akhirnya reda, atau sekadar memberi diri sendiri waktu untuk berhenti sebentar. Sederhana memang, tapi tulusnya menjadi lebih terasa.

Menurut perspektifku bagus juga ko, karena mulai menyadari itu (kenyataannya, ga semua orang bisa merasakan itu kan?). Karena mungkin tujuan akhirnya bukan menjadi seseorang yang selalu tenang, tapi seseorang yang tahu bagaimana kembali tenang setiap kali pikirannya mulai terlalu ramai. Semoga yang terasa kosong dan gelisah itu pelan-pelan menemukan tempatnya. Dan semoga senyum kecil yang kamu mulai biasakan itu bukan cuma meringankan orang lain, tapi juga bisa jadi pengingat buat diri sendiri bahwa hidup masih punya banyak hal sederhana yang layak dinikmati, dinikmati buatmu, dinikmati juga buat orang lain disekitarmu. Dan semoga niat dan kebiasaan kecil yang mulai kamu kerjakan, menjadi kumpulan hal baik yang bisa dirasakan oleh banyak orang ya.

Be kind. Comments appear right away.