BACK TO REFLECTIONS

Thursday · October 22, 2026

Mengambil Kebaikan dari Kisah-Kisah

On paper

Saya merekam refleksi ini lewat tengah malam untuk tanggal 22 Oktober. Pagi tadi saya sempat berolahraga, lalu bersiap dan berangkat ke kantor sekitar pukul sepuluh. Saya sampai menjelang pukul sebelas, mengerjakan beberapa tiket, lalu pulang sedikit lewat pukul enam sore. Setelah salat Magrib dan makan di perjalanan, saya tiba di rumah sekitar setengah sembilan. Karena sudah dua hari tidak merekam refleksi, malam ini saya juga mencoba mengingat kembali beberapa hal yang baru saya alami.

Dalam beberapa hari terakhir, keluarga saya berduka karena kakek meninggal dunia. Saya ikut mengantar keluarga yang berangkat ke Aceh untuk pemakaman. Suasana di bandara terasa berat. Saya tentu ikut sedih, tetapi yang paling membekas justru melihat orang-orang terdekat menangis karena kehilangan seseorang yang mereka sayangi. Ada rasa empati dan tanggung jawab untuk menemani mereka yang terasa begitu kuat. Kadang, melihat orang lain berduka membuat rasa sedih saya sendiri terasa semakin dalam.

Di tengah perjalanan itu saya juga mendapat pelajaran kecil soal ongkos. Biasanya saya langsung memilih kereta bandara sampai Manggarai, padahal tarifnya cukup mahal. Kalau sedang tidak terburu-buru, ada pilihan turun di stasiun yang lebih dekat lalu melanjutkan perjalanan dengan KRL. Perjalanan jadi lebih panjang, tetapi biayanya bisa jauh lebih hemat. Saya senang menemukan pilihan sederhana yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Satu hal lain yang masih mengganggu pikiran saya adalah tugas kuliah yang sempat saya tunda karena saya kira akan mudah. Untuk mata kuliah Pertanian Cerdas, saya perlu mencari dataset dan paper, membuat model, menyiapkan kode, slide, serta video presentasi. Dataset yang saya pilih berisi data kardiotokografi atau CTG yang merekam detak jantung janin dan kontraksi rahim, dengan kelas normal, suspect, dan pathological. Saya mencoba menggunakan SVM, lalu mencari hyperparameter yang sesuai dengan Parrot Optimizer. Algoritma ini terinspirasi dari beberapa perilaku burung parrot, seperti mencari makan, menetap, berkomunikasi, dan bereaksi terhadap orang asing.

Saya mengira tugas itu paling lama selesai dalam lima jam. Kenyataannya, memahami masalah, mempelajari algoritmanya, membuat model, dan menyiapkan semua hasilnya memakan hampir dua belas jam. Saya mulai malam hari dan baru selesai sekitar pukul delapan pagi. Setelahnya saya hanya sempat tidur dua atau tiga jam sebelum mendapat kabar duka dan harus berangkat menemui keluarga. Saya merasa sangat kewalahan. Namun, kesalahan terbesarnya bukan hanya salah memperkirakan waktu. Saya belum paham banyak hal yang ternyata harus dipelajari, bahkan belum tahu apa yang belum saya ketahui. Itu yang membuat perkiraan saya meleset jauh. Ke depannya saya ingin memulai lebih awal dan memberi ruang untuk hal-hal yang belum pernah saya kerjakan.

Saya juga perlu lebih mindful terhadap pesan kerja. Beberapa percakapan berlangsung di dalam utas dan tidak selalu muncul sebagai notifikasi. Akibatnya, saya pernah baru melihat pesan beberapa jam setelah dikirim. Saya ingin melatih kebiasaan memeriksa pesan secara berkala supaya lebih sigap, terutama ketika ada pertanyaan yang perlu dijawab. Ini pengingat bahwa perhatian perlu dibentuk lewat kebiasaan kecil, bukan hanya mengandalkan notifikasi.

Saat mengevaluasi minat membaca, saya menyadari bahwa yang menarik bagi saya bukan hanya pesan atau nasihat yang ingin disampaikan sebuah buku, tetapi juga sosok yang menjalankan nilai tersebut. Penjelasan umum tentang manfaat tersenyum terasa baik, tetapi kisah tentang Rasulullah yang dikenal murah senyum terasa lebih hidup dan mudah saya teladani. Begitu juga kisah Santiago dalam The Alchemist: kebijaksanaan yang muncul melalui perjalanan seseorang lebih melekat bagi saya daripada daftar poin yang berdiri sendiri. Saya ingin mencari teladan dan mencoba mengambil kebaikan dari tindakan mereka.

Saya juga menikmati mencatat transaksi dan mengevaluasi keuangan setiap bulan. Pengeluaran untuk hal yang terasa kecil dan rutin ternyata bisa jauh lebih besar daripada perkiraan saya. Catatan harian membantu saya melihat uang pergi ke mana, lalu membuat keputusan dengan lebih sadar. Saya ingin membangun kebiasaan ini sebagai bekal mengatur keuangan dengan baik di masa depan. Kalau saya ingin mencapai target yang besar, saya juga perlu belajar menjaga dan mengelola apa yang sudah ada. Saya teringat perumpamaan yang saya catat: siapkan wadahnya dulu, baru airnya bisa datang.

Dari sebuah kajian, saya membawa gagasan tentang tiga hal yang bisa direnungkan ketika mengejar sebuah niat: kemudahan dalam menjalani ikhtiar, urgensi untuk mencapainya, dan keyakinan yang semakin kuat. Ketika suatu urusan terasa dimudahkan, atau ada sesuatu yang membuat kita kembali yakin saat menghadapi hambatan, mungkin itu bisa menjadi pengingat untuk terus memohon pertolongan Allah dan menjalankan niat dengan sungguh-sungguh. Saya ingin tetap mengevaluasi langkah sendiri, berusaha bertumbuh sedikit demi sedikit, dan tidak meremehkan pekerjaan yang belum benar-benar saya pahami. Semoga saya tetap rendah hati, menjaga prasangka baik, cukup beristirahat, bangun untuk salat Subuh, dan ingat menelepon orang tua.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 0

No comments yet. Be the first to leave one 🌱

Be kind. Comments appear right away.