Thursday · October 29, 2026
Reset Suasana Hati
Hari ini saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertinggal dari malam sebelumnya sebelum berangkat ke kantor. Akibatnya saya terlambat untuk rapat pagi dan meminta izin untuk ikut secara daring. Saya tetap bisa menyampaikan laporan, lalu tiba di kantor sekitar tengah hari. Kejadian itu mengingatkan saya untuk memperhitungkan waktu dengan lebih baik saat pekerjaan yang belum selesai mengubah rencana pagi.
Setelah salat Zuhur, saya melanjutkan migrasi sistem lama ke alur baru yang disiapkan tim produk dan engineering. Ada satu perubahan pada alur yang saling terhubung dengan banyak bagian lain. Saya dan seorang rekan menghabiskan waktu untuk menimbang dampaknya sebelum menentukan langkah. Rasanya cukup menantang, tetapi diskusi itu juga menyenangkan karena mengajak saya menggunakan kembali hal-hal yang pernah dipelajari.
Pagi tadi saya berjalan santai sambil mendengarkan podcast tentang peran mahasiswa di lingkungan masyarakat. Di masjid dekat kantor, saya juga mengikuti kajian setelah Zuhur yang membahas buku La Tahzan. Dalam perjalanan pulang, saya mendengarkan kajian lain tentang kasih sayang Tuhan kepada manusia. Materi itu mengajak saya melihat takdir, orang-orang yang hadir dalam hidup, dan aturan agama sebagai bagian dari kasih sayang-Nya. Mendengarnya membuat hati terasa lebih tenang dan menguatkan iman.
Di tengah perjalanan, saya mencoba memahami mengapa belakangan ini motivasi saya menurun. Saya merasa keadaan hati dapat memengaruhi niat dan keinginan untuk bertumbuh, meskipun pekerjaan tetap bisa dilakukan. Saya ingin mencari cara untuk memulihkan suasana hati dengan lebih sengaja. Salah satunya dengan mendengarkan hal-hal yang menenangkan dan memberi pengingat baik, seperti Al-Qur'an, podcast, atau kajian. Saya juga ingin menjaga apa yang saya ucapkan, membiasakan kalimat yang baik dan berzikir. Ucapan yang kita latih sekarang dapat memengaruhi apa yang keluar setelahnya, jadi saya ingin memberi diri sendiri lebih banyak masukan yang baik.
Saya ingin mulai menggunakan papan tulis besar yang selama ini masih kosong. Rencananya saya membaginya menjadi tiga bagian: pekerjaan, kuliah, dan impian. Di masing-masing bagian saya bisa menulis target bulanan, lalu memecahnya menjadi langkah mingguan atau harian. Saya juga ingin menambahkan moto atau doa yang bisa menjadi pengingat. Dengan melihat arah dan langkah kecilnya, semoga saya tidak mudah kehilangan pegangan saat semangat sedang turun.
Saya terpikir menambah alasan pada catatan pengeluaran. Selama ini saya menulis apa yang dibeli dan harganya. Saya ingin mencatat juga mengapa barang itu dibeli dan manfaat apa yang diharapkan darinya. Belajar bertanggung jawab atas pengeluaran kecil bisa menjadi latihan sebelum mengelola rezeki yang lebih besar. Bukan untuk menyalahkan diri atas setiap pembelian, tetapi agar keputusan saya lebih sadar.
Malam ini saya ingin mulai menuliskan sesuatu di papan itu, walaupun baru beberapa hal. Saya masih merasakan sedih dan rindu, tetapi saya berharap bisa melewatinya sambil merawat diri, menjalankan tanggung jawab, dan memohon petunjuk. Semoga hati ditenangkan, jalan dimudahkan, dan rindu dibawa menuju waktu serta tempat yang baik. Saya juga ingin tetap rendah hati, beristirahat cukup, bangun untuk Subuh, dan menelepon orang tua.
— rama
Enjoyed this reflection?
Follow me on Instagram for more updates.
No comments yet. Be the first to leave one 🌱