BACK TO REFLECTIONS

Sunday · July 26, 2026

Ujian Sebelum Hadiah

On paper

Pagi ini saya rekam catatan ini sebelum olahraga, tidak seperti biasanya. Semalam, setelah merekam catatan malam, saya mendengar kajian Ustaz Adi Hidayat tentang surat Al-Insyirah, tentang bagaimana menghadapi masalah. Yang saya tangkap, sebelum sebuah doa dikabulkan, biasanya kita diuji dulu, untuk melihat apakah kita pantas menerimanya. Diibaratkan seperti ujian di sekolah, sebelum naik kelas kita harus melewati ujian dulu. Dan untuk bisa ikut ujian, kita harus lebih dulu masuk ke dalam sistemnya. Sama seperti hidup, sistemnya adalah salat, puasa, hal-hal wajib itu. Kalau tidak masuk sistem, berarti itu bukan ujian.

Ada juga perumpamaan dari Ustaz Hanan Attaki yang saya ingat. Ujian sebelum mendapat hadiah itu seperti orang yang mau berulang tahun. Sebelum diberi kejutan dan hadiah, biasanya dia dikerjai dulu, dibuat sedih sebentar, baru kemudian datang hadiahnya. Mungkin begitu juga cara Tuhan memberi kita apa yang kita minta. Jadi kalau hari ini terasa berat, mungkin ada hadiah besar yang sedang disiapkan. Akhir-akhir ini hati saya memang sering gundah, dan renungan ini terasa pas. Ujian sebenarnya adalah konsekuensi dari doa, maka terima saja dan jalani dengan ikhlas. Target hari ini: mengunjungi keluarga di Bogor, menyelesaikan beberapa pekerjaan, dan merapikan website.

Malamnya saya baru pulang dari Bogor. Rasanya penting sesekali pulang menemui keluarga saat kita tinggal jauh, karena sesering apa pun kita menelepon, tetap berbeda dengan melihat langsung senyum mereka. Dan sepanjang hari ini saya banyak merenungkan tentang akhlak dan adab kenabian. Ada satu hal yang benar-benar menancap di hati saya. Nama nabi-nabi lain adalah sekadar nama, sebagai identitas, tapi nama Muhammad justru adalah sifat beliau sendiri, yang berarti yang terpuji. Saya benar-benar terpana, dan rasa cinta itu tumbuh lagi. Memang cinta harus terus disiram, diulang-ulang, ditumbuhkan.

Hal lain yang membuat saya kagum, Nabi adalah seorang problem solver. Siapa pun yang punya masalah datang kepada beliau, dan beliau selalu memberi solusi yang jenius. Diam-diam saya merasa bahagia setiap kali di kantor atau di mana pun saya bisa membantu menyelesaikan masalah orang, seolah meneladani sedikit dari sifat itu. Dan retorika beliau, cara beliau menyampaikan sesuatu, singkat, tepat sasaran, tidak bertele-tele, tapi tetap dimengerti. Itu justru yang paling sulit, karena berarti kita harus meringkas semua poin di kepala dengan kata-kata yang paling pas sebelum diucapkan. Karena itu pula saya ingin catatan-catatan saya tidak bertele-tele.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 0

No comments yet. Be the first to leave one 🌱

Be kind. Comments appear right away.