Monday · July 27, 2026
Berproses Diam-diam
Hari ini saya lupa merekam catatan pagi. Setelah olahraga, saya langsung tancap kerja karena ada beberapa tiket yang mendesak, dan baru selesai jam sepuluh malam. Ternyata bagian tersulit dari menjaga konsistensi adalah lupa. Dan justru dengan masih bisa lupa, saya jadi ingat bahwa saya ini manusia biasa. Akhir-akhir ini tiket memang menumpuk, karena saya sedang menggantikan beban kerja yang biasanya dibagi, jadi semua langsung dialihkan ke saya. Hari-hari seperti ini memang menantang keseimbangan antara kerja dan istirahat, walau biasanya tidak selalu sepadat ini.
Sambil mengerjakan tiket, saya biasanya memutar kajian berulang-ulang, dan hari ini saya kembali ke soal meletik yang kemarin. Ada satu poin baru yang menarik. Pak Faiz bilang, dia sering melihat potensi pada anak-anak muda yang baru mau meletik. Tapi tantangan terbesarnya bukan saat wawasan mereka terbuka, melainkan apa yang mereka lakukan setelahnya. Orang yang baru mau meletik tapi tidak sabar, buru-buru ingin terkenal, ingin cepat dipuji, ingin dianggap wow, menurut beliau itu justru bencana. Sebab banyak proses yang seharusnya ditempuh malah dilewati begitu saja.
Jadi pelajarannya, setelah momen titik balik itu, tahan dulu, tenangkan diri, jangan buru-buru ingin ini dan itu. Bangun pondasi dulu, berproses diam-diam, dan tunggu waktu bersinar kita datang sendiri. Ini yang ingin saya pegang. Malam ini saya juga jadi ingat satu keinginan yang belum kesampaian, membuat semacam platform untuk mencatat dan merapikan keuangan pribadi saya, karena selama ini masih memakai Excel seadanya. Mungkin itu bisa jadi target minggu ini. Sebelum tidur, seperti biasa, tetap rendah hati dan jaga prasangka.
— rama
Enjoyed this reflection?
Follow me on Instagram for more updates.
No comments yet. Be the first to leave one 🌱