BACK TO REFLECTIONS

Tuesday · July 28, 2026

Yang Memberi Makan Burung

On paper

Pagi ini sebenarnya jadwal saya ke kantor, tapi ada pekerjaan yang harus selesai sebelum jam tertentu, jadi saya mengejarnya dulu dari rumah sampai lupa merekam catatan pagi. Ada kabar baik, saya melanjutkan S2 di IPB lewat kelas khusus, dan hari ini saya diminta masuk ke grup kelas, sebentar lagi mulai mengisi rencana studi. Semoga kuliah dan pekerjaannya sama-sama dimudahkan. Saya makin sadar, kunci hari yang produktif itu ada pada apa yang kita lakukan setelah subuh, dari subuh sampai duha. Kalau di jam itu kita produktif, biasanya seluruh hari ikut produktif. Target hari ini sederhana, menyelesaikan semua tiket.

Malamnya, saya menulis ini dengan mata yang basah. Tadi menjelang tidur saya sempat membuka Instagram sebentar, sekadar melihat dunia setelah seharian jadi seperti robot di depan laptop. Lalu muncul satu unggahan yang benar-benar mengguncang hati saya, tentang jiwa yang kesepian, tentang hati yang perlahan mengeras dan membeku ketika iman menurun. Saya jadi merenung, jangan-jangan hati saya sudah mulai mengeras, karena terlalu sibuk memikirkan pekerjaan sampai kadang menyampingkan waktu untuk salat.

Sebab jujur, saya sering merasa kurang, terutama soal uang dan masa depan. Selalu menghitung, selalu cemas, apakah bulan depan masih cukup. Padahal, coba ingat orang-orang kecil, yang sehari cuma memegang uang sedikit untuk makan, yang tidak tahu besok makan apa, tapi tidak pernah satu hari pun dibiarkan kelaparan. Selalu ada saja jalannya. Nabi pernah bilang, burung yang keluar pagi dari sarangnya dengan perut kosong akan pulang petang dalam keadaan kenyang. Siapa yang memberinya makan kalau bukan Tuhan. Allah memelihara ikan di laut, memberi makan kucing, laba-laba, kupu-kupu. Rezeki selalu ada dari arah yang tak disangka.

Maka saya belajar mengubah cara pandang. Usaha kita bukanlah yang menyebabkan hasil. Yang memberi hasil adalah Allah, dan usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil kalau tidak dibarengi doa dan prasangka baik. Bukan berarti tidak perlu berusaha atau menyiapkan bekal, tapi tidak perlu takut berlebihan. Dan mungkin, tujuan kita mengumpulkan sesuatu bukan sekadar supaya kita sendiri aman, tapi supaya nanti kita bisa lebih banyak menolong orang lain. Ini catatan terpanjang saya sejauh ini, dan sudah genap seminggu saya menjaga kebiasaan ini. Cukup dulu untuk malam ini, sebagian saya simpan untuk besok. Tetap rendah hati dan jaga prasangka.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 0

No comments yet. Be the first to leave one 🌱

Be kind. Comments appear right away.