BACK TO REFLECTIONS

Thursday · October 15, 2026

Tumbuh dalam Kesadaran

On paper

Hari ini dimulai seperti biasa. Saya bangun, berolahraga, mandi, lalu beristirahat sebentar. Pagi tadi saya juga mendengarkan podcast dan kisah La Galigo. Setelah itu saya mengerjakan beberapa urusan kuliah sampai sekitar pukul dua siang. Saya pergi ke kampus untuk ujian dari pukul lima sampai delapan malam dan baru tiba di rumah sekitar pukul setengah sebelas. Sesampainya di rumah, saya sempat menunda pekerjaan dengan menonton Better Call Saul. Saya tahu saya sedang menunda, tetapi saya juga ingin menyegarkan pikiran dan memperbaiki suasana hati.

Ada sekitar lima urusan yang sedang berjalan bersamaan. Selain kuliah dan ujian, ada dua urusan kantor serta dua proyek pribadi, yaitu website saya dan Viora. Saya juga ingin setiap hal terus berkembang, meski sedikit demi sedikit. Selama ini saya berusaha menyelesaikan satu urusan lalu segera berpindah ke urusan berikutnya. Akhirnya kegiatan saya sering berlangsung dari pagi sampai lewat tengah malam. Waktu tidur berkurang dan saya mulai merasa kurang memperhatikan diri sendiri. Saya jadi lebih sibuk memastikan semuanya selesai daripada memahami apa yang sudah saya jalani. Saya melihat kebiasaan ini sebagai tanda bahwa saya mungkin sedang terlalu banyak bekerja.

Saya sedang mencari cara membagi waktu dan menentukan prioritas agar semua tanggung jawab punya tempat tanpa mengorbankan istirahat. Mengurangi gangguan juga penting. Media sosial bisa menyita perhatian, begitu pula obrolan yang sebenarnya tidak perlu. Namun, saya tidak ingin menganggap semua percakapan sebagai gangguan karena kadang obrolan sederhana memberi jeda yang saya butuhkan. Saya ingin lebih sadar menjalani hari dan mampu mengingat apa yang baru saja saya lakukan, bahkan lima belas menit sebelumnya. Belakangan waktu terasa cepat berlalu. Tiba-tiba sudah siang atau sore, sementara saya tidak sepenuhnya sadar ke mana perhatian saya pergi.

Akhir-akhir ini saya juga merasa melankolis. Bukan sedih sampai ingin menangis dan bukan pula merasa kesepian. Ada rasa murung yang sulit dijelaskan. Kadang perasaan itu justru membuat saya berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri. Saya merasa lebih mudah memperhatikan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Saya juga tahu terlalu banyak menahan emosi belum tentu baik. Yang ingin saya pelajari adalah mengenali emosi dan mengaturnya dengan lebih baik, bukan mengabaikannya atau membiarkannya menguasai seluruh perhatian.

Saya ingin meningkatkan kemampuan berbicara dan berkomunikasi. Saya perlu belajar menyampaikan gambaran besar, lalu menjelaskan setiap poin dengan runtut, jelas, dan nyaman didengar. Mungkin saya bisa berlatih dengan bernarasi sendiri agar tahu bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Bagi saya, komunikasi yang baik bukan hanya membuat orang mudah memahami maksud saya, tetapi juga menyampaikan sesuatu tanpa menyakiti. Gagasan tentang tabligh mengingatkan saya bahwa cara menyampaikan sesuatu sama pentingnya dengan isi yang ingin disampaikan.

Papan tulis besar di kamar sudah penuh dengan tujuan, jadwal, target, dan catatan tentang manusia seperti apa yang ingin saya bangun. Saya terpikir menambah satu papan lagi agar setiap pagi saya bisa melihat tujuan tersebut dan menentukan langkah yang dapat saya ambil hari itu. Pada malam hari saya bisa memeriksa kembali apa yang sudah tercapai. Saya berharap satu atau dua tahun lagi saya dapat melihat catatan hari-hari ini dan memahami bagaimana saya berkembang. Untuk sekarang, saya ingin menjaga diri di tengah banyak urusan, tetap rendah hati, beristirahat dengan cukup, menunaikan salat Subuh, dan menelepon orang tua jika sedang jauh dari rumah.

— rama

Enjoyed this reflection?

Follow me on Instagram for more updates.

Follow @ramaabb
Comments 1

Saling bertumbuh dan berproses sayang 🤍 🤲🏻

Be kind. Comments appear right away.