Monday · November 02, 2026
Resiliensi
FavoritePagi ini saya bangun sekitar setengah lima atau lima untuk salat. Setelah beberapa hari tidak berolahraga, saya memutuskan keluar untuk berjalan sebentar. Badan belum benar-benar fit, jadi saya memilih gerak ringan saja sambil mencari keringat dan menghirup udara segar. Saya tidak mendengarkan podcast seperti biasanya, hanya berjalan ditemani musik. Setelah pulang sekitar pukul enam atau setengah tujuh, saya mandi lalu beristirahat lagi.
Rencananya saya ingin tidur sampai sekitar pukul sembilan atau sepuluh. Namun, pukul delapan ada pertanyaan dari rekan kerja terkait data yang perlu saya tangani. Karena telanjur bangun dan kembali aktif, saya memutuskan untuk mandi sekalian membeli makanan, kopi, dan minuman supaya tidak perlu keluar lagi. Hari itu kondisi badan maupun hati terasa kurang baik. Meski begitu, saya tetap mengerjakan tiket pekerjaan. Pukul sebelas ada meeting dengan CTO, lalu saya melanjutkan pekerjaan sampai waktu Magrib. Menjelang malam, saya sudah lelah dan ingin tidur lebih awal.
Saya juga harus mengantar pakaian kantor ke laundry. Saya berharap bisa langsung mengambilnya malam itu, tetapi prosesnya sekitar 80 menit sementara laundry tutup pukul sembilan. Karena saya baru berangkat pukul delapan, pakaian itu baru bisa diambil besok pagi. Saya perlu memakainya untuk bekerja, jadi saya berharap bisa mengambilnya sekitar pukul enam. Tidak semua urusan selesai sesuai rencana, tetapi kali ini saya bisa menerima penundaan kecil itu dan menunggu sampai besok.
Sebelum menutup hari, saya kembali memikirkan kebiasaan saya yang sering ingin terus mendorong diri. Saya perlu mengingatkan diri agar tidak terlalu memaksakan diri, karena itu juga berarti berlaku tidak adil kepada diri sendiri. Namun, saya punya niat, target, dan impian yang ingin dicapai. Saya masih mencari cara agar kuliah, pekerjaan, dan proyek pribadi bisa berjalan selaras tanpa mengorbankan waktu tidur, istirahat, dan ruang untuk menyesuaikan diri dengan suasana hati. Belakangan ini saya merasa dikejar banyak tanggung jawab, sementara hati juga sedang sedih dan kurang baik. Saya berharap waktu perlahan membantu menyembuhkan rasa rindu yang saya bawa.
Obrolan dengan teman kantor dan teman kuliah membuat saya melihat bahwa setiap orang memiliki ketahanan yang berbeda ketika menghadapi tekanan. Saya memikirkan resiliensi sebagai kemampuan untuk bangkit lagi setelah jatuh, sementara persistensi adalah keteguhan untuk terus bertahan menghadapi kesulitan. Saat melihat beberapa teman yang kelelahan oleh kuliah atau pekerjaan, saya pun bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sedang belajar menjadi lebih resilien dan persisten? Mungkin masa yang sedang saya jalani memang meminta saya untuk bangkit lagi dan menjaga kejernihan pikiran di tengah banyak hal yang menekan.
Salah satu kejadian yang membantu saya memandang tekanan dengan lebih lapang terjadi kemarin sepulang dari kampus. Saya berhenti untuk salat di musala sebuah pom bensin. Di sana saya melihat seorang bapak yang berjualan makanan ringan buatan tangan dari motornya. Motornya membawa banyak perlengkapan dagangan, dan beliau tampak lelah. Namun, saat berdoa, beliau terlihat tenang. Saya tidak tahu apa yang sedang beliau hadapi atau siapa yang bisa menjadi tempatnya berbagi cerita. Saya hanya melihat beliau tetap berusaha menjalankan tanggung jawab, bersyukur, dan menjaga hubungannya dengan Tuhan.
Pemandangan itu membuat saya memandang lelah saya sendiri dengan cara yang berbeda. Saya sedang lelah di tempat yang saya pilih dan inginkan sejak lama, sambil belajar dan bekerja. Saya bersyukur masih bisa menjalani hal-hal itu, dan berharap usaha tersebut menjadi sesuatu yang bernilai. Membantu orang tua pun punya lelahnya sendiri, begitu juga mungkin kelak saat mengurus keluarga. Ada lelah yang datang bersama tanggung jawab dan kasih sayang, dan saya ingin belajar menerimanya tanpa melupakan batas diri.
Saya juga memperbarui papan tulis dengan beberapa kalimat penyemangat dan doa. Saya menambahkan checklist membaca Al-Qur’an, dengan rencana untuk memulai dari sekitar sepuluh ayat atau ayat-ayat yang sudah saya hafal, memahami artinya, lalu mencatat hal yang ingin saya ingat. Saya ingin mencoba menjadikan kebiasaan itu bahan reflection tersendiri. Agar rencana-rencana itu lebih tertata, saya menambah satu papan tulis lagi sebagai ruang untuk menulis.
Malam ini saya ingin belajar menyelaraskan usaha dengan istirahat: tetap bertanggung jawab, tetapi tidak terus memaksa diri. Semoga saya bisa melewati masa ini dengan lebih resilien dan pikiran yang jernih. Saya ingin tetap rendah hati dan menjaga prasangka baik, mengingat bahwa tidak ada manusia yang paling baik; hanya ada manusia yang aibnya ditutupi oleh Allah. Semoga saya beristirahat cukup, bangun untuk salat Subuh, dan tidak lupa menelepon orang tua. Semoga rasa rindu ini dijaga dan dikuatkan, serta dimudahkan jalannya menuju waktu dan tempat yang tepat.
— rama
Enjoyed this reflection?
Follow me on Instagram for more updates.
No comments yet. Be the first to leave one 🌱